Menggugat Eksistensi LGBT Indonesia PDF Cetak E-mail
Oleh MUHAMMAD YASIN JUMADI   
Monday, 29 March 2010 12:20

Konferensi International Lesbian and Gay Association (ILGA) ke-4 di Surabaya tanggal 26-28 Maret 2010 akhirnya batal. Konferensi bertema "LGBT ASIA Moving Forward!" ini ditolak MUI, anggota DPRD Jatim, Pemkot Surabaya, mahasiswa, dan ormas-ormas Islam. Polri tak beri izin keamanan. FPI Mengancam, “Jika kongres tersebut tetap diadakan, kami udah siapkan 1.000 pasukan jihad.” “Kami tidak jamin demo akan berlangsung damai.” “Kami udah gemes dengan mereka.” Pihak Hotel Mercure pun mengeluarkan surat pernyaaan sikap untuk tidak menfasilitasi konferensi tersebut.

Begitulah sekilas potret gelombang penolakan terhadap konferensi komunitas Lesbi, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) di Surabaya. Bermacam alasan menolak LGBT, mulai dari agama, HAM, budaya, keamanan, karena Surabaya kota pahlawan tak boleh dicemari LGBT, dll..

Komnas HAM Indonesia mendukung rencana kegiatan ini. Padahal berbagai pihak menilai LGBT itu sendiri tidak menghomati HAM orang lain. Islam menolak. Kristen dan Yahudi—walau ajarannya telah diselewengkan—tetap menolak LGBT.

Indonesia menolak LGBT. Jika pihak LGBT mengatakan, belum ada UU yang melarang homoseksual, maka UU tersebut harus segera dibuat. Eropa sebagai pusat LGBT dunia masih menghadapi penolakan dari pihak homophobia. Karena homophobia inilah, pada tahun 2008 Perancis mengusulkan dirayakannya hari anti homo pada 17 Mei setiap tahunnya. Karena berkembangnya homophobia, Belanda membentuk payung hukum khusus bernama Hivos, di mana hingga kini Hivos mendukung perkembangan LGBT Indonesia, baik secara politik hingga finansial.

Di hadapan penolakan seperti ini, LGBT di Indonesia justru tumbuh subur. Saat ini telah ada lebih dari 30 organisasi LGBT yang tersebar di 21 kota besar Indonesia, seperti Jakarta, Manado, Makasar, Balik Papan, Pekan Baru, Lampung, Medan, hingga Banda Aceh.

Tidak hanya eksis di tingkat nasional, di tingkat Asia, ada 3 organisasi Indonesia yang aktif di ILGA Asia, yaitu GAYa NUSANTARA yang mendaftarkan diri tahun 1991, Swara Srikandi Indonesia tahun 1991, dan Arus Pelangi tahun 2006.

2006 adalah tahun pencapaian besar bagi pergerakan LGBT di Indonesia. Karena pada tahun ini lahir Yogyakarta Principles yang berisi 29 butir, hasil dari seminar internasional di Universitas Gajah Mada, 6-9 November. Tahun 2007, Jenewa mengumumkan Yogyakarta Principles sebagai panduan LGBT seluruh dunia. Hingga saat ini, Yoyakarta Principles ditulis secara resmi hanya dalam 6 bahasa dunia; Inggris, Arab, Cina, Perancis, Rusia dan Spanyol.

Dedengkot LGBT Indonesia

Tumbuh kembang LGBT Indonesia tak terlepas dari perjuangan Dr. Dede Oetomo. Dede Oetomo-lah yang mendirikan kembali organisasi gay di Indonesia tahun 1982 bernama Lambda Indonesia (LI), setelah satu-satunya organisasi gay lahir di Jakarta bernama Himpunan Wadam Jakarta (Hiwad) tahun 1969. Ia membentuk sekretariat LI di Solo, kemudian segera membuka cabang di Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, dan tempat lain.

Dede Oetomo benar-benar menjadi penggerak berkembangnya komunitas LGBT di Indonesia, setelah organisasi gay bentukannya bernama GAYa NUSANTARA menjadi anggota ILGA Asia pada tahun 1991.

Dari kiprah Dede Oetomo ini, baik di tingkat Asia dan 30 tahun memperjuangkan advokasi LGBT di Indonesia, International Gay and Lesbian Human Rights Commission memberinya pernghargaan Felipa de Souza Award pada tahun 1998. Juga karena memperjuangkan LGBT, ia mendapatkan Utopia Awards pada tahun 2001.

Setelah ditelusuri, ternyata Dede Oetomo adalah lulusan Cornell University, Amerika, bidang Linguistik, dengan menggondol gelar Ph.D. Ia seorang gay keturunan Tiong Howa. Status Facebooknya menunjukkan bahwa ia seorang Atheis. Dalam sebuah wawancara pada situs komunitas AIDS Indonesia Dede mengatakan, “Pengorganisasian LGBT di Indonesia adalah mengikuti trend yang mulai berkembang di Barat di tahun 1980-an.”

Menggugat Eksistensi LGBT

Dari profil Dede Oetomo, seharusnya seluruh elemen bangsa Indonesia lebih serius menggugat eksistensi LGBT. Karena yang menghidupkan LGBT adalah keturunan Tiong Howa, bukan asli Indonesia. Dia Atheis, sedangkan masyakat Indonesia bergama. Di sisi lain, penyebaran LGBT ini juga mengandung unsur westernisasi buta.

Ada banyak alasan menggugat eksistensi LGBT, di antaranya: Pertama, semua agama mengharamkan LGBT. LGBT lebih parah dari kaum Nabi Luth di mana pria hanya suka pria. Sedangkan dalam LGBT ada unsur “B” untuk “Biseks”, yaitu “Bi” artinya “dua”, sehingga berarti seseorang yang suka pada dua jenis, baik laki-laki maupun perempuan. Terkadang ditulis juga dengan LGBTQ, di mana “Q” untuk “Queer”, yang artinya “aneh”, seperti Panseksual, dimana “Pan” berarti semua. Sehingga, jenis ini suka pada semua jenis, baik laki-laki, perempuan, waria, maupun pemilik dua kelamin.

Kedua, hubungan gay, waria, dan AIDS. Sejarah mencatat pengidap AIDS pertama adalah 5 orang gay di Los Angeles, dalam jangka waktu Oktober 1980-Mei 1981. Saat itu, AIDS belum dikenal. Center for Disease Control (CDC) Amerika pada tahun 1981 menamakannya dengan GRID (Gay-related Immune Deficiency), yang artinya rusaknya imunitas akibat hubungan gay. Nama ini karena penyakit ini muncul dan tersebar dikalangan gay.

Namun 13 bulan kemudian, pada tahun 1982 ditemukan kasus yang sama pada perempuan, sehingga nama GRID dianggap tidak cocok. Sehingga pada Juli 1982, langsung digelar pertemuan para pemimpin komunitas gay, birokrat AS, dan Tim Investigasi CDC di Washington. Pertemuan inilah yang mengubah nama GIRD menjadi AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome), yang berarti wabah penyakit yang tersebar luas akibat rusaknya imunitas. Sejak tahun 1982 ini, istilah AIDS mulai digunakan secara internasional.

Tidak hanya di AS, di Inggris ternyata pengidap AIDS pertama juga dari kalangan gay yang bernama Terrence Higgins. Tahun 1982 gay ini meninggal diserang AIDS, sehingga teman-temannya mendirikan organisasi AIDS pertama bernama Terrence Higgins Trust, untuk mengenang orang pertama yang diketahui meninggal karena AIDS di Inggris.

Menyambung fakta sejarah ini, hingga kini data membuktikan, penularan AIDS di kalangan homoseksual lebih tinggi dari pada heteroseksual. Memang mereka berupaya mengopinikan data lain, namun hingga Selasa 1 Desember 2009 tempointeraktif.com memberitakan pernyataan Deputi Sekretaris Bidang Pengembangan Program Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) Kemal Siregar yang mengatakan, “Hubungan seks sesama lelaki lebih besar probabilitasnya terinfeksi HIV ketimbang heteroseks.”

Media Modus melansir data Christian Media Center—Kelompok yang beranggotakan gay yang sudah taubat ini—menyebutkan, rata-rata pelaku gay berganti pasangan sebanyak 20-106 orang setiap tahunnya, dan 500 orang sepanjang hidup mereka. Penelitian juga dilakukan Marschal Sagir dan Eli Robins. Mereka menyatakan masa hubungan cinta homoseks paling lama antara 1-3 tahun. Alfred Kinsey mengatakan, kaum gay berbeda dengan yg normal. Mereka memiliki getaran seksual yang sangat hebat saat bertemu dengan orang baru. Kecendrungan gonta-ganti pasangan inilah yang menjadi salah satu penyebab kaum gay sangat rentan terhadap penularan HIV/AIDS.

Begitu juga di kalangan waria (Transgender). Januari 2010, Situs Continuing Profesional Development Dokter Indonesia (www.cpddokter.com) melansir, bahwa sebanyak 110 waria di Kota Cimahi, Jawa Barat, seluruhnya terdeteksi mengidap penyakit HIV.

Pihak LGBT sering berusaha agar gay dan waria diterima masyarakat dengan melakukan aksi sosialisasi memberantas AIDS. Ini bisa jadi maling teriak maling, karena dikalangan merekalah AIDS banyak tersebar. Atau, sebagaimana berita majalah.tempointeraktif.com (11/09/1993), bahwa oleh karena di kalangan waria penyebaran AIDS tinggi, “Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), mendapat bantuan dana dari organisasi NAMRU di AS dan WHO, punya rencana menggunakan waria sebagai penyuluh yang digaji.”

Ketiga, menggugat organisasi LGBT. Karena dengan organisasi, komunitas gay merasa diri mereka benar dan normal, padahal mereka membahayakan diri sendiri dan masyarakat. Dengan organisasi, jumlah mereka akan terus bertambah. Karena organisasi, mereka bisa mengadakan kontes waria sejak 2004, berniat melangsungkan konferensi ILGA 2010, walau akhirnya batal.

Keempat, Indonesia menolak legalitas LGBT. Di tingkat PBB, upaya melegalkan LGBT dimobilisasi dengan Deklarasi Argentina, yang disponsori oleh Belanda dan Perancis pada tahun 2008. Hasilnya, anggota PBB terpecah menjadi dua kubu: pertama, yang mendukung resolusi Argentina melegalkan LGBT ditandatangani oleh 64 negara anggota PBB. Kedua, resolusi kubu Suriah menolak legalisasi LGBT, ditandatangani oleh 57 negara, termasuk Indonesia. AS tidak menandatangani deklarasi Argentina tersebut, kecuali setelah Obama menjadi presiden.  

Selamatkan Komunitas LGBT Indonesia

Kesimpulan tulisan di atas: Pertama, masyarakat Indonesia yang bergabung dengan komunitas LGBT adalah korban gerakan Atheis dunia dan weternisasi buta. Karena statusnya korban, maka komunitas LGBT tidak boleh dicaci, tapi mereka butuh aksi penyelamatan, dengan upaya penyadaran yang proposional. Kedua, perlu adanya pembubaran organisasi LGBT secara bertahap, untuk kemudian menggantinya dengan organisasi-organisasi terapi, agar para waria menjadi laki-laki sejati, dan gay menjadi normal kembali. Wallâu a’lam. []

 

Terakhir Diupdate ( Monday, 29 March 2010 12:46 )