Asad: Ketegangan Israel-Turki Pengaruhi Kawasan PDF Cetak E-mail
Oleh admin   
Tuesday, 06 July 2010 19:31

SINAI Online: Presiden Suriah, Bashar Asad menganggap krisis diplomasi antara Turki dan Israel akan mempengaruhi stabilitas Kawasan.

Asad dalam kunjungan resminya ke Spanyol mengatakan, "jika solusi terkait hubungan Turki dan Israel tidak kunjung ada, maka akan sangat susah bagi Turki untuk bernegosiasi" guna mewujudkan perdamaian di Timur Tengah. "Serangan Israel adalah penyebab nyata ketidakstabilan di kawasan Timur Tengah," jelas Asad.
Sebagai contoh, serangan Israel pada tanggal  31 Mei 2010  terhadap rombongan bantuan kemanusiaan di perairan internasional menyebabkan sembilan aktifis Turki tewas.

Presiden Suriah menambahkan, tidak ada pihak manapun yang dapat menggantikan peran Turki, sebagaimana sebelumnya saya telah katakan. Penyebabnya tidak lain adalah negara itu hidup di kawasan kita dan mengetahui tiap permasalahan yang berkembang.
Oleh karena itu, dapat saya katakan
bahwa berkurangnya peran Turki dan upaya perdamaian dalam sejarah Suriah, tidak diragukan akan dapat mempengaruhi stabilitas Kawasan. Penyebab menurunannya stabilitas itu adalah ancaman Israel.

Turki Tuntut Israel Minta Maaf


Memburuknya hubungan diplomatik Turki dan Israel berawal dari penyerangan berdarah Israel terhadap Armada Kebebasan yang membawa bantuan ke Gaza, akhir Mei kemarin.
Ancaman Turki diungkapkan melalui Menlunya, Ahmad Davutoglu akan segera memutuskan hubungan diplomatik
dengan Tel Aviv, jika Israel tidak meminta maaf atas insiden berdarah tersebut.

Ini yang pertama kalinya sejak terjadinya ketegangan kedua belah negara, Turki mengancam secara jelas untuk memutuskan hubungan diplomatik
dengan Israel. Hal ini bisa diketahui dari penjelasan kedua belah pihak untuk mengkaji ulang hubungan diplomatik. Selain itu, minggu lalu kedua belah negara telah berupaya mencairkan
perbedaan keduanya, tetapi keduanya tetap bersikukuh dengan sikap masing-masing.

Ahmed Davutoglu, dalam penjelesannya yang dilansir koran "Hurriyet" terbitan Senin (6/7), mengatakan, bagi Israel cuma ada tiga pilihan, pertama: Israel meminta maaf, kedua: menerima hasil penyelidikan internasional terkait
serangan armada tersebut, ketiga: Turki memutuskan hubungan diplomasinya.
Menlu itu juga mengatakan bahwa Turki menutup zona udaranya untuk semua penerbangan AU Israel sebagai reaksi terhadap serangan itu.

Tetapi Menlu Israel Avigdor Lieberman, mengatakan, Israel tidak berniat sama sekali minta maaf. "Kami tidak berniat untuk meminta maaf, kami malah berkeyakinan sebaliknya, yang benar, jelas Avigdor Lieberman kepada wartawan di sela-sela kunjungannya ke Latvia. (Imo/Ans)  

Terakhir Diupdate ( Tuesday, 13 July 2010 01:10 )